Berthie

Berthie (59) pertama kali didiagnosa mengidap kanker paru pada Bulan November 2005. Selang sebulan, yaitu pada Bulan Desember 2005, Berthie dijadwalkan untuk operasi kanker paru. Berthie sadar bahwa kanker paru dapat disebabkan oleh banyak faktor. Namun, Berthie meyakini bahwa penyakit kanker paru yang diidapnya ini dikarenakan kebiasaan merokoknya sejak lama. Oleh sebab itu, semenjak ia didiagnosa kanker paru, Berthie pun mulai berhenti merokok.

Namun perjalanan Berthie tidak berhenti sampai disitu, 2 bulan setelah menjalani operasi kanker paru, Berthie kembali didiagnosa mengidap kanker usus. Hal ini membuat Berthie dan keluarga merasa terkejut. Akan tetapi, hal ini tidak membuat Berthie patah semangat. Motivasi untuk hidup agar ia dapat melihat anak-anaknya tumbuh besar membuat Berthie tetap bersemangat dalam menjalani terapinya. Maka, pada bulan Maret 2006, Berthie menjalani operasi kanker usus. Setelah itu, Berthie mulai menjalani kemoterapi selama 8 bulan. Hingga pada tahun 2007, Berthie yang dulu aktif sebagai seorang atlet softball nasional, ia kembali beraktifitas dan tetap semangat untuk terus berolahraga. Perjalanan terapi ini tidak akan mudah tanpa adanya dukungan yang besar dari keluarga dan teman-teman yang terus memberikan motivasi kepada Berthie.

Peran keluarga itu sangatlah penting. Jadi selama perjalanan terapi ini, saya selalu bilang kalau perawat yang paling pintar dalam merawat saya itu adalah istri saya sendiri. Menurut saya, support paling berarti bagi pasien kanker paru adalah peran dari keluarga dan teman dekat. Selain itu, penting juga agar selalu berdoa dan jangan lupa bahagia.

Cerita selengkapnya mengenai perjalanan Berthie selama terapi kanker paru dapat dilihat di Hidup Harian.